AWARD KEPADA PEMBAYAR PAJAK, KENAPA TIDAK?

Pada umumnya manusia merasa senang apabila niat baik dan hasil kerjanya dihargai secara layak. Tak terkecuali dengan para pembayar pajak. Kita dapat mengatakan kepada pembayar pajak bahwa mereka adalah pahlawan-pahlawan masa kini yang telah berkontribusi kepada negara dengan menunaikan kewajiban perpajakannya secara benar dan patuh.

Beberapa tahun lalu, sebagian dari kita barangkali sudah membaca berita tentang sekelompok orang kaya di Amerika Serikat yang berdemo mendatangi kongres untuk meminta kenaikan pajak. Disaat umumnya orang beramai-ramai minta keringanan pajak, mereka justru minta supaya dikenai pajak lebih tinggi. Ini disebabkan karena di era pemerintahan sebelumnya, negara itu telah memberlakukan pemangkasan pajak bagi para jutawan. Kok, sampai  sebegitunya yah? Lantas kira-kira apa alasan mereka.

Dalam sebuah berita yang dilansir oleh sebuah situs online itu, salah satu dari orang-orang kaya tersebut mengatakan bahwa ia tidak percaya dengan  argumen bahwa kenaikan pajak dan mendorong para orang kaya membayar pajak lebih akan menghalangi pertumbuhan bisnis. Sementara yang lainnya berharap agar orang-orang yang mampu bisa memberikan kontribusi  lebih besar ke negara. Mereka merasa bahwa selama ini telah cukup lama dimanjakan oleh Kongres dengan perlakuan yang ramah dalam hal pajak. Selain itu, mereka juga menuntut agar diberlakukan persentase beban pajak yang sama dengan penduduk lainnya yang bahkan telah dikenai tarif pajak yang lebih tinggi ketimbang mereka.

Fenomena di atas sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa, terlebih bila mengingat kondisi di sebagian besar negara-negara di Amerika dan Eropa yang tengah digoncang krisis ekonomi di masa 2008. Jadi sangat wajar apabila dalam keadaan seperti itu ada sekelompok warga yang terpanggil nuraninya untuk turut meringankan beban negara dengan rela menanggung beban pajak yang lebih besar. Berkaca dari berita di atas, lantas bagaimana dengan kondisi di negara kita? Tentu kita sepakat bahwa sikap patriotik yang ditunjukkan oleh sebagian warga seperti di atas tidak harus muncul sebagai buah dari kondisi krisis.

Pada dasarnya iklim perpajakan (tax climate) yang hadir di tengah-tengah masyarakat suatu negara merupakan hasil tarik-menarik antara kekuatan yang disebut kepatuhan pajak (tax compliance) di satu sisi, dengan kekuatan yang melakukan penolakan terhadap pajak (tax resistance) di sisi yang lain. Semakin dominan kekuatan kepatuhan pajak, akan semakin kondusif iklim perpajakan di negara itu. Begitu pun sebaliknya. Kepatuhan pajak sendiri dibangun dari unsur-unsurnya yang secara umum terdiri dari: audit pajak, sistem pemungutan, dan kemauan membayar pajak.

Audit pajakmenekankan pada fungsi pengawasan aparat pajak terhadap para pembayar pajak dengan tindakan berupa pengujian kepatuhan atas kewajiban perpajakan, penegakan aturan dan pengenaan sanksi. Fungsi ini sejalan dengan amanat perundang-undangan perpajakan di negara kita, sehingga dengan sendirinya dapat berjalan secara otomatis. Sedangkan sistem pemungutan berupaya untuk mencapai tujuan pemungutan pajak secara efektif dan efisien. Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah kita telah melakukan sebuah upaya besar melalui apa yang disebut ‘modernisasi sistem administrasi perpajakan’. Hal-hal mendasar yang berhubungan dengan sistem pemungutan, pembayaran, pelaporan, dan administrasi perpajakan hingga pembangunan basis data pajak telah dibenahi sedemikian rupa sehingga mampu membuat perbedaan yang signifikan dalam hal penerimaan negara dan pelayanan kepada pembayar pajak.

Adapun unsur yang ketiga dari kepatuhan pajakadalah kemauan membayar pajak atau willingness. Inilah tema pokok kita dalam pembahasan ini. Yang dimaksud dengan willingness di sini adalah adanya keinginan/kesadaran dari para pembayar pajak ataupun masyarakat umum untuk mau menerima pajak sebagai sebuah kewajiban kolektif untuk secara bersama-sama turut menanggung pembiayaan negara dalam rangka tugas pemerintahan dan pembangunan. Dari ketiga unsur pembentuk kepatuhan pajak di atas, tampak bahwa willingness lebih berpotensi menghasilkan iklim perpajakan yang kondusif dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan oleh karena willingness mampu menciptakan kepatuhan sukarela (voluntary compliance) dikalangan pembayar pajak sehingga akan memudahkan tugas pemerintah dalam mencapai tujuan-tujuan di bidang fiskal. Meski demikian, peran bersama-sama dari ketiga faktor pembentuk kepatuhan pajak tadi sebenarnya saling terkait erat dan sukar dipisahkan satu sama lain.

Untuk menghadirkan willingness ini diperlukan satu prasyarat yang sangat penting, yakni sebuah kepercayaan (trust) yang tinggi dari masyarakat. Kepercayaan itu ditujukan kepada aparat pajaknya, organisasinya, dan tata kelolanya (sistem dan teknologi yang digunakan). Tanpa kepercayaan dari masyarakat rasanya tidak mungkin pemerintah dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah dicanangkan. Itulah sebabnya mengapa dalam visi yang diusung oleh pemerintah, khususnya otoritas pajak, kepercayaan masyarakat menjadi  salah satu kondisi yang ingin diraih.

Pada umumnya manusia merasa senang apabila niat baik dan hasil kerjanya dihargai secara layak. Tak terkecuali dengan para pembayar pajak. Kita dapat mengatakan kepada pembayar pajak bahwa mereka adalah pahlawan-pahlawan masa kini yang telah berkontribusi kepada negara dengan menunaikan kewajiban perpajakannya secara benar dan patuh. Dari sekian banyak pembayar pajak tersebut pastilah ada beberapa dari mereka yang memiliki prestasi menonjol dibandingkan dengan yang lain. Dari kenyataan ini, selanjutnya kita dapat menyusun sebuah peringkat pembayar pajak dan mulai merencanakan untuk memberikan penghargaan (award) kepada mereka.

Pemberian award kepada pembayar pajak ini paling tidak memiliki tiga rangkaian tujuan yang berjalan secara berurutan menuju kepada tujuan akhir yang kita kehendaki. Pertama, pemberian award harus dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi kepada pembayar pajak atas seluruh pemenuhan kewajiban perpajakannya secara benar dan patuh selama ini. Pembayar pajak perlu diangkat agar timbul rasa kebanggaannya di antara para pembayar pajak yang lain. Dengan begitu, pembayar pajak akan termotivasi untuk terus mempertahankan atau bahkan meningkatkan posisinya sebagai pembayar pajak berprestasi. Perlu diingat bahwa sebagian besar pembayar pajak sebenarnya tidak menuntut banyak hal terkait pemberian penghargaan ini. Bagi mereka, pengakuan yang tulus dan apresiasi dari otoritas pajak saja sudah cukup.

Kedua, pemberian award harus ditujukan untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat di kalangan pembayar pajak. Bagi pembayar pajak lain yang belum memperoleh predikat serupa, tentu akan ada motivasi  untuk berusaha meraih predikat berprestasi sehingga mereka akan berupaya memenuhi kewajiban perpajakannya dengan lebih baik lagi. Sesungguhnya ada hal lain yang penting dalam penciptaan iklim kompetisi ini, yakni agar para pembayar pajak dan masyarakat menjadikan pembayar pajak yang berprestasi tersebut sebagai patok banding atau benchmark dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan mereka. Hal ini juga penting untuk mengikis kebiasaan pola pikir sebagian masyarakat yang masih menjadikan pembayar pajak buruk sebagai contoh.

Dan ketiga, tentu saja tujuan akhir dari pemberian award ini adalah harus dapat meningkatkan penerimaan pajak. Namun perlu disadari bahwa efek peningkatan penerimaan pajak dari kegiatan ini tidaklah serta-merta dapat segera diketahui. Mungkin dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat merasakan efek peningkatan pajak dari upaya ini. Jadi anggap saja ini merupakan bentuk pengeluaran untuk investasi jangka panjang yang hasilnya baru akan dinikmati kelak di kemudian hari.

Kegiatan pemberian award tersebut akan sangat baik jika dapat dilakukan secara periodik dan konsisten. Paling tidak dapat diselenggarakan setahun sekali atau dua tahun sekali dengan mengambil momentum akhir tahun atau momen-momen tertentu lainnya. Saya membayangkan bila setiap kantor pajak secara rutin mengadakan kegiatan pemberian award kepada pembayar pajak di lingkungannya, maka bukan saja akan menciptakan iklim kompetisi yang sehat di antara pembayar pajak, namun diharapkan juga dapat mengangkat citra pajak di mata masyarakat. Tentu saya berkeyakinan bahwa tak ada seorang pun yang menolak jika diberikan award dari pemerintah sebagai pembayar pajak teladan, terbesar, terbaik, terpatuh, ataupun predikat positif lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s