Pandemi, Tantangan Edukasi Pajak dan Perannya Pada Perilaku Taat Pajak

Agustine Dwianika, SE., M.Ak., CMA., CIBA*

JawaPos.com – Siapa sih yang tidak jengah jika bermasalah dengan pajak? Baik pajak individu, terlebih pajak perusahaan. Memang, urusan satu ini menjadi problematika tersendiri. Seringkali Wajib Pajak (WP) individu atau perusahaan cenderung menghindari pembayaran pajak, yang bisa saja muncul karena faktor-faktor yang kurang terprediksi. Memang sudah sifatnya, manusia akan memilih untuk menanggung sesuatu yang “nihil” dibanding melunasi “kejutan” pajak di akhir tahun.

Pekerjaan Rumah pemerintah untuk menggali kesadaran pajak relatif tidak mudah, terlebih di masa Pandemi Covid-19 yang melanda di dua tahun belakangan ini. Tentu, target pendapatan pajakpun terdampak.

Jika kita runut kebelakang upaya pemerintah di era kenormalan baru ini, ada beberapa kebijakan yang perlu kita cermati. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (ditetapkan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 menjadi Undang-Undang).

Kebijakan ini diikuti dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran (APBN) 2020.Jelas, berbagai relaksasi ini bentuk upaya pemerintah dalam menjaga kepatuhan pajak WP.

Kebijakan perubahan target pendapatan pajak, mau tidak mau harus dilakukan. Perpres 54/2020 telah mengubah target penerimaan negara menjadi Rp1.760,9 triliun, nilai itu turun Rp472,3 triliun dari target awal penerimaan negara sebelumnya yang sebesar Rp2.233,2 triliun. Sementara itu, untuk alokasi belanja negara meningkat Rp73 triliun dari sebelumnya Rp2.540,4 triliun menjadi sebesar Rp2.613,8 triliun. Defisit anggaran yang semula 1,76% diubah menjadi 5,07%. Total utang yang awalnya hanya Rp307,2 triliun berubah menjadi Rp852,93 triliun.

Setelah berbagai upaya dilakukan, edukasi pajak tetap memegang peranan strategis. Sebenarnya Edukasi Pajak telah dimulai jauh sebelum terjadinya wabah ini, namun kembali lagi kesuksesannya memang tergantung dari perilaku WP. Edukasi pajak erat kaitannya dengan moral pajak. Berbagai saluran dibuat untuk semakin mendekatkan Direktorat Jendral Pajak (DJP) di hati masyarakat.

Dengan pendekatan non formal dan menggandeng komunitas muda penggiat pajak. Perpanjangan tangan DJP ini dianggap cukup sukses kinerjanya pada tiga atau empat tahun lalu sebelum pandemi. Namun, sedikit berbeda perannya dua tahun belakangan. Tantangan edukasi pajak berbasis komunitas ini harus beradaptasi dengan keterbatasan yang ada.

Pemahaman materi dalam upaya meningkatkan moral pajak WP dan dibungkus sosialisasi yang tepat menjadi salah satunya. Meski tujuan akhirnya masih sama jelasnya, moral pajak WP yang meningkat, sehingga berperilaku taat pajak.

Diskusi mengenai perilaku seseorang memang selalu menarik, apalagi dikaitkan dengan kemauan membayar pajak yang oleh beberapa individu dirasa berat. Derajat kepatuhan seseorang seringkali dipengaruhi oleh faktor individual dan faktor situasional.

Wajar, jika individu akan lebih merasa patuh disaat otoritas yang berwenang dianggap memiliki sistem yang mumpuni. Namun, diluar itu semua moral pajak yang terbenam di hati WP mampu mengalahkan perilaku menghindari pajak. Dalam suatu wawancara mendalam pada WP yang berpredikat taat pajak, menyatakan bahwa ia merasa lega dan lebih tenang jika telah melaksanakan kewajiban pajaknya dengan benar. WP seperti ini memang cukup langka.

Dari berbagai fakta diatas, maka peningkatan moral pajak merupakan strategi yang penting dilakukan oleh otoritas pajak, demi mempertahankan konsistensi WP untuk melunasi kewajiban pajaknya. Terlebih di masa pandemi ini, moral pajak masing-masing dari kita teruji.

Pilihan untuk rela memberikan kontribusi bagi negara, demi kemajuan bangsa memang seringkali terdengar klise. Namun berbeda, bagi individu yang memiliki moral pajak baik, yang tak bergeming dengan kondisi pandemi sekalipun. Ia akan tetap melaksanakan kewajiban pajak meski hal itu sedikit lebih sulit dibandingkan beberapa tahun lalu.

Salah satu strategi pemanfaatan komunitas muda pengiat pajak perlu terus digenjot. Dengan pendekatan edukasi pajak yang tidak hanya pada WP, namun juga pada tataran pendidikan dasar maupun menengah. Salah satunya, dengan menghadirkan berbagai permainan pajak yang ringan dan lebih membumi. Dengan strategi edukasi pajak yang mumpuni, dapat memupuk moral pajak sejak dini dan mendobrak paradigma bahwa membayar  itu berat.

(*) Dosen Program Studi Akuntansi, Universitas Pembangunan Jaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s